iryanih

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong perekonomian masyarakat di Manokwari, Papua Barat, dengan mengenalkan kegiatan usaha di bidang perikanan budidaya yaitu budidaya lele bioflok.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, KKP akan memprioritaskan dukungan yang langsung menyentuh ekonomi masyarakat, antara lain usaha budidaya lele bioflok, pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR), dukungan induk dan benih, sarana dan prasarana produksi budidaya dan pakan ikan mandiri.
Menindaklanjuti keberhasilan lele bioflok di distrik Prafi, Slamet mengungkapkan KKP akan mendorong pengembangan budidaya lele berbasis kawasan. Untuk itu,  KKP akan menginisiasi konsep ini di Kabupaten Manokwari yakni dengan membangun model kampung bioflok.
"Intinya kampung bioflok akan menjadi satu kawasan yang terintegrasi dan diharapkan nantinya akan memicu pergerakan ekonomi lokal. Apalagi dengan pengenalan lele bioflok turut mendongkrak citra ikan lele  dan mulai disukai masyarakat," kata Slamet, di Jakarta, Sabtur (16/2/2018).
                              

Menurut dia, dari satu kolam yang dikelola bersama, warga di lingkungan setempat bisa meraup untung hingga ratusan ribu rupiah. Hal itu masih ditambah dengan bonus mengonsumsi ikan lelesetiap hari.
Warga biasa memanen lelenya setiap tiga bulan sekali. Masa panennya lebih cepat karena pakan lele terbantu dengan keberadaan mikro organisme yang terbentuk dari sistem bioflok.
Mikro organisme yang menjadi makanan alami ikan itu sengaja dibiarkan berkembang di dalam kolam, sehingga lebih hemat.
Untuk biaya pembuatan kolam bundar, benih, dan pakan sistem bioflok membutuhkan biaya sekitar Rp 750 ribu. Sedangkan, harga jual saat panen bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Masih ada keuntungan lain yakni sebagian lele yang bisa dikonsumsi untuk kebutuhan pribadi.
Adapun sistem bioflok dilakukan tidak langsung memasukkan benih ikan ke dalam kolam. Namun, membiarkan mikro organisme berkembang terlebih dulu.
Lalu, air kolam diisi dengan probiotik atau bakteri patogen dan pakannya seperti tetes tebu dan dolomit.
Lurah Mojorejo Basuki menambahkan, pembudidayaan ikan lele tersebut awalnya bertujuan untuk pemenuhan gizi warganya. Saat itu, konsumsi ikan warga setemaat sangat kurang.
"Kemudian warga sepakat membudidayakan lele agar masyarakat tidak perlu membeli. Namun, hal itu terkendala dengan lahan yang akhirnya mendapat pelatihan dari Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun," katanya.
Kini seiring dengan berjalannya waktu, warga Kelurahan Mojorejo tidak hanya menjual dalam bentuk ikan lele, tetapi juga telah mengemasnya dalam bentuk pepes, nugget, botok, garang asem, hingga mangut.
"Kondisi tersebut turut mendongkrak perekonomian warga pengelolanya. Prinsipnya, dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan dimanfaatkan untuk masyarakat," kata Basuki.

Komentar

Posting Komentar